benner bengkulu

Maksimalkan Info Cegah Stunting, IWO Sumsel Siap Bantu BKKBN

0 54

PALEMBANG | SriwijayaTerkini.co.id – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumatera Selatan (Sumsel), siap menjalin kerjasama dalam sosialisasi informasi, tentang upaya BKKBN Sumsel untuk mengantisipasi Stunting di Sumsel. Hal itu terungkap, saat PW IWO Sumsel silaturahmi ke Kantor Perwakilan BKKBN Sumsel, Jumat (14 Desember 2023).

Bentuk kerjasama ini, menurut Efran, Ketua IWO Sumsel, semua media yang berada dalam keanggotaan IWO se-Sumsel, siap membantu berbagai informasi tentang upaya pencegahan dan percepatan penurunan Stunting di Sumsel yang dilakukan Kantor Perwakilan BKKBN Sumsel.

“Kami di IWO Sumsel, memiliki jaringan di tujuh belas kabupaten dan kota. Jadi kalau ada informasi dari BKKBN Sumsel, terutama yang berkaitan dengan upaya pencegahan dan percepatan penurunan Stunting, kita akan bantu sepenuhnya, dengan memberdayakan media yang berada di jaringan IWO se-Sumsel,” ujar mantan Ketua Pengurus Daerah (PD) IWO Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) periode 2019-2022.

publikasinya belum maksimal

Efran menjelaskan, persoalan Stunting menjadi hal penting untuk disosialisasikan ke masyarakat. Namun, secara kasat mata, Efran menilai publikasinya belum sepenuhnya maksimal, sehingga tidak sedikit sebagian warga yang belum mendengar atau bahkan masih asing dengan istilah Stunting.

Melihat kondisi ini, Efran bersama jajaran PW IWO Sumsel ikut terpanggil, untuk kemudian IWO Sumsel bersama jejaring medianya di Sumsel, ikut bertanggungjawab agar membantu BKKBN untuk menginfomasikan tentang upaya pencegahan dan percepatan penurunan Stunting di Sumsel, sehingga informasi tentang Stunting akan lebih menyebar dan mencerdaskan masyarakat.

Instruksi Ketum PP IWO

Kunjungan PW IWO ke Kantor Perwakilan BKKBN Sumsel ini, sekaligus menindaklanjuti instruksi Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat (PP) IWO, Dwi Cheristianto, SH, M. Si tentang pentingnya melakukan kerjasama dengan Kantor Perwakilan BKKBN Sumsel.

Sebab menurut Efran, salah satu Dewan Kehormatan (DK) Pengurus Pusat (PP) IWO di Jakarta, merupakan Kepala BKKBN Pusat, Dr.(H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K).

“Jadi kami ini, silaturahmi kami, sekaligus menindaklanjuti instruksi Ketua Umum PP IWO, agar kami di daerah juga melakukan kerjasama dengan BKKBN di Sumsel. Sebab, salah satu Dewan Kehormatan PP IWO di Jakarta, adalah Pak Hasto, yang juga Kepala BKKBN Pusat,” urainya.

SILATURAHMI – Suasana Silaturahmi, Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumatera Selatan (Sumsel) ke Kantor Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumsel. (Foto.Dok. BKKBN Sumsel)
IWO Sumsel – BKKBN menjalin kerjasama

Melalui silaturahmi kali itu, Efran berharap agar BKKBN Sumsel bersama PW IWO Sumsel bisa menjalin kerjasama secara rutin dalam penyebaran informasi tentang pencegahan, percepatan penurunan Stunting di Sumsel.

“Melalui pertemuan ini, kami berharap agar media yang berada di jaringan IWO Sumsel, bisa ikut membantu penyebarluasan infomasi tentang Stunting dari BKKBN, sehingga masyarakat akan lebih mengetahui seluk beluk Stunting dan bagaimana cara mengatasinya,” ujarnya.

Merespon hal itu, Kepala Kantor Perwakilan BKKBN Sumsel, Mediheryanto, SH, MH menyatakan, Stunting hingga saat ini masih menjadi persoalan serius yang harus segera diantisipasi.

Sebab menurut alumnus Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) ini, Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak, sebagai akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang serta stimulasi lingkungan yang kurang mendukung, yang ditandai dengan tinggi badan anak yang berada di bawah standar. “Tentu hal ini, sampai sekarang masih menjadi persoalan serius yang menjadi tanggungjawab bersama,” ujar Medi.

program prioritas nasional

Medi menjelaskan, Program Percepatan Penurunan Stunting (PPS) saat ini menjadi program prioritas nasional, karena Stunting menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan generasi emas di tahun 2024, yaitu generasi yang berkualitas dan berdaya saing sebagai agen pembangunan bangsa.

Sebagaimana dilansir bkkbn.go.id, kondisi saat ini, prevalensi stunting di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 21,6 persen di atas batas toleransi yang ditetapkan badan kesehatan dunia atau WHO yaitu 20 persen.

Menurut Medi, hingga saat ini berbagai upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah mulai dari penguatan regulasi, hingga penggalangan komitmen bersama dalam intervensi spesifik dan sensitif percepatan penurunan Stunting. “Hal itu dilakukan mulai dari pusat hingga daerah dengan melibatkan mitra strategis,” tambahnya.

Guna mewujudkan capaian dari terget dari upaya percepatan penurunan Stunting ini, menurut Medi, BKKBN menggunakan dua pendekatan, yaitu; multi sektor dan multi pihak. Multi sektor, menurut Medi, BKKBN menjalin kerjasama semua sektor baik di pusat, provinsi, kabupaten atau kota sampai di kelurahan dan desa.

upaya percepatan dan penurunan Stunting

Hal ini dilakukan, menurut Medi, guna memaksimalkan upaya percepatan dan penurunan Stunting yang terencana dengan sistematis, komprehensif dan terarah, yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. “Tujuannya untuk melakukan kegiatan percepatan dan penurunan Stunting secara bersama-sama dan berkelanjutan,” tegasnya.

Sementara, multi pihak menurut Medi, BKKBN menjalin kemitraan denga berbagai pihak, untuk mempercepat penurunan prevalensi Stunting di Sumsel atau secara umum di Indonesia. “Menjalin kemitraan dengan multi pihak tentu dengan melakukan MoU dengan semua pihak untuk kemudian para pihak ikut serta dalam upaya percepatan dan penurunan Stunting,” tegasnya.

Diantara pihak yang penting hadir dalam program ini, adalah Media atau pers. Sebab Pers merupakan satu diantara pihak yang sangat penting untuk dijadikan mitra dalam upaya percepatan penurunan Stunting.

“Oleh karena itu, media perlu ikut turun tangan langsung untuk menggaungkan stunting, baik dari istilah, definisi, dampak hingga penanganannya di tengah-tengah masyarakat, sehingga informasi tentang Stunting ini dapat memberi pemahaman yang maksimal,” tegas Medi.

media memberikan edukasi

Mengapa media atau pers menjadi penting hadir? Sebab menurut Medi, salah satu fungsi media itu melakukan edukasi (pendidikan) kepada publik. “Salah satu fungsi media itu memberikan edukasi kepada masyarakat, termasuk program-program pemerintah, termasuk Stunting di dalamnya. Makanya kami sangat terbuka kepada pers, karena kami sangat terbantu untuk sosialisasi ke masyarakat,” tambahnya.

Pada silaturahmi itu, selain Mediheryanto, SH, MH, Kepala Perwakilan BKKBN Sumsel, hadir juga Mukminin, SH M.Si, Sekretaris Badan (Sekban) Perwakilan BKKBN Sumsel, serta Taruna Rosivelt. SH M.Hum, Ketua Tim Advokasi Perwakilan BKKBN Sumsel.

Sementara Pengurus IWO Sumsel yang berkesempatan hadir; Efran, Ketua IWO Sumsel, Imron Supriyadi, S. Ag, M. Hum, Sekretaris dan Yuli Afriyani, Bendahara.

Silaturahmi diakhiri dengan foto bersama, dan merencanakan kerjasama lanjutan antara BKKBN dan IWO Sumsel, dalam upaya penguatan informasi dan sosialisai tentang pentingnya pencegahan dan upaya penurunan Stuntng melalui jaringan media anggota IWO Sumsel.**

TEKS : HUMAS IWO SUMSEL | FOTO : DOK.BKKBN SUMSEL.

Leave A Reply

Your email address will not be published.